Rabu, 23 Mei 2012

sejarah sultan baabullah_2


Sultan Ternate Baabullah
Khalifah Islam Nusantara dan Penakluk Kaum Imperialis
T ernate yang saat ini menjadi daerah `panas' akibat pertikaian bernuansa SARA, menyimpan goresan emas kejayaan Islam. Sejarah mencatat keberadaan beberapa kerajaan Islam di bawah pimpinan raja yang bijak di sana. Tak mengherankan bila petualang kesohor Ibnu Batutah menyebut kawasan itu sebagai Jazirat Al-Mulk (Semenanjung Raja-Raja). Salah satu fase kejayaan itu berada di bawah kendali Sultan Baabullah (SB), sosok Muslim Ternate yang mampu berperan sebagai penguasa bijak. Di bawah kendali pemerintahannya, Ternate mampu tampil sebagai kerajaan yang adil, bisa mengayomi segenap lapisan masyarakat, termasuk kalangan non-Muslim.
Tentu saja, gerakan misionaris Kristen yang memporak-porandakan hakikat toleransi dengan tegas akan dilibas. Ini dibuktikan SB ketika memimpin perlawanan melawan kolonialis Portugis, yang tak hanya berniat menjajah secara ekonomi tetapi juga aqidah. Penguasa Ternate yang dijuluki `Khalifah Islam Nusantara' ini akhirnya mampu mengenyahkan Portugis, dengan model perlawanan yang cantik dan Islami.
Baabullah sang Penakluk• Lahir di Ternate, 10 Februari 1528 M, Baabullah merupakan generasi ke-5 Sultan Zainal Abidin (1485-1500). Generasi pertamanya adalah Sultan Bayanullah (1500-1522), kedua Sultan Maharani Noekila (1522-1532), ketiga Sultan Tabarija (1532-1536), dan keempat Sultan Chairun Janil (1536-1570).
Di masa muda, Baabullah telah digembleng masalah kemiliteran oleh Salahaka Sula dan Salahaka Ambon. Keduanya merupakan Panglima Kerajaan Ternate. Berkat bimbingan kedua tokoh ini, dalam usia relatif muda Baabullah telah diangkat menjadi Kaicil Paparangan (panglima tertinggi angkatan perang).
Dalam bidang pengetahuan agama Islam, para mubalig istana juga tak jemu-jemunya membimbing Baabullah. Anak muda gagah perkasa ini memang dipersiapkan untuk memegang tampuk kerajaan Ternate. Jadilah ia, selain menguasai ketatanegaraan dan kemiliteran, juga terdidik secara mental sebagai calon sultan pengganti Chairun. Satu lagi, kelak ia diharapkan mampu melaksanakan tugas suci memimpin perang fi sabilillah melawan kecongkakan Eropa.
Saat diangkat menjadi Sultan Ternate yang ke-25, usia Baabullah sudah cukup matang, sekitar 42 tahun. Segenap penghuni kerajaan tak ragu sebab ia telah terlatih secara nyata di berbagai medan pertempuran masa pergolakan melawan Portugis.
Terbukti memang. Perlawanan melawan Portugis semakin garang di masa pemerintahannya. Dalam benaknya selalu teringat saat-saat duka dodora (duka mendalam) ketika ia harus membopong jenazah Sultan Chairun, ayahandanya, yang raganya hancur, diambil jantungnya oleh serdadu Portugis untuk dipersembahkan kepada Rajamuda Portugis di Goa India (1570). Namun spirit yang membuatnya pantang menyerah adalah Ri Jou si to nonakogudu moju se to suba (Hanya kepada Allah tercurah harapan, meskipun ghaib tetap akan disembah karena Dia ada).
Portugis sendiri tiba di Ternate sekitar tahun 1511, dipimpin Admiral Fransesco Serrano. Mereka diterima Sultan Bayanullah (Raja Ternate waktu itu) dengan baik. Tetapi barangkali karena tabiat Portugis yang tidak mengenakkan, kedatangan orang-orang Eropa itu akhirnya menyulut peperangan. Penerus takhta Bayanullah, Sultan Maharani Noekila, dengan tegas menyatakan perang melawan Portugis. Sultan Tabarijja juga mengobarkan api perlawanan, hingga ditawan di Goa dan akhirnya meninggal di Malaka. Ayah SB, Sultan Chairun Janil, meneruskan perlawanan, sebelum akhirnya meninggal secara tragis. Sang ayah inilah yang terus mengobarkan semangat dan kesadaran sebagai bangsa merdeka di dada putranya, SB. Salah satu nasihatnya yang terekam dalam pita sejarah adalah:
“Antara Islam dan Katolik terdapat jurang pemisah yang lebar. Sejarah kemenangan Islam di Andalusia (Spanyol), Khalifah Barat, membuat mereka membenci dan iri kebesaran Kesultanan Ternate. Mereka menderita penyakit dendam kesumat serta pemusnahan di mana saja setiap melihat negeri-negeri Islam, baik di Goa, Malaka, Jawa, dan kita di Maluku sini. Kalau kita di Ternate kalah maka nasib kita akan sama dengan negeri-negeri Islam di Jawa, Sulawesi, dan Sumatra.”
Sebuah nasihat yang begitu mengesankan bagi SB. Apalagi Portugis selama ini juga dikenal licik sehingga Ternate beberapa kali dikibuli. Misalnya ketika putra mahkota Dayle terbunuh (1532), penyerahan kedaulatan kepada Portugis di bawah King Alfonso II (1536), pelanggaran sumpah agama yang disepakati Sultan Chairun dan Musquita, serta puncaknya berupa tewasnya Chairun secara sadis.
Jadilah kerajaan Ternate di bawah SB sebagai rival terberat yang membuat kolonialis Portugis pusing tujuh keliling. Armada Ternate yang terkenal perkasa, ditambah kapal-kapal dari Jawa (Jepara), Melayu, Makasar, Buton, membuat armada Portugis yang lengkap persenjataannya seakan tak berarti apa-apa. Akhirnya benteng Fort Tolocce (dibangun tahun 1572), Santo Lucia Fortress (1518), dan Santo Pedro (1522), jatuh ke tangan laskar kora-kora Ternate.
Siasat penyerangan dilakukan secara matang selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Pasukan canga-canga yang beranggotakan suku Tobelo dilengkapi panah api beracun. Laskar Kolano Baabullah bersenjatakan meriam hasil rampasan dari benteng Portugis di Castel Sin Hourra Del Rosario yang merupakan pusat kekejaman Portugis di Asia Tenggara. Di kastel inilah para misionaris dididik untuk menyebarkan agama Katolik di wilayah Maluku dan sekitarnya. Sayang, agama Katolik kurang bisa diterima penduduk Ternate karena terlalu dipaksakan.
Perang terus berkecamuk, baik di darat maupun di laut. Armada kora-kora Ternate mampu membuat kalang kabut korvet (kapal perang kecil) dan fregat (kapal perang ukuran sedang) Portugis. Impian bangsa Portugis sebagai satu-satunya pemasok komoditas rempah-rempah sekaligus membentuk imperium jajahan sebagai bagian dari gerakan glory, gospel, gold (kemuliaan, penyebaran agama, dan kekayaan) turut terkubur oleh keperkasaan laskar Ternate.
Gubernur Alvaro De Atteyda segera menawarkan perdamaian dengan, namun ditolak mentah-mentah. Akibatnya, perang berjalan penuh selama lima tahun (1570-1575). Selama itu pula spirit jihad laskar Ternate senantiasa mampu dikobarkan SB. Kemenangan nyata telah mulai terlihat, sedang Portugis semakin tidak berdaya. Kekalahan bertubi-tubi, terserang penyakit, kekurangan makanan, dan bantuan yang tak pernah tiba, membuat pihak Portugis semakin lemas dan lemah.
SB memimpin perang menurut pola asli kesultanan di mana Tomagola bertanggung jawab atas kawasan Ambon-Seram. Toraitu bertanggung jawab atas kep Sula, Bacan, Luwuk, Banggai, dan Buton. Jougugu Dorure dan Sultan Jailolo termasuk koordinator penghancuran di Halmahera dan Sulawesi.
Tanggal 24 Desember 1575 dengan berat hati Gubernur Nuno Pareira de Lacerda menaikkan bendera putih tanda menyerah total pada SB, sekaligus menyerahkan kota dan benteng Santo Paulo atau kota Sen Hourra Del Rosario yang dikenal kejam itu. Berduyun-duyun orang Portugis penghuni kota tersebut keluar, seirama dengan nyanyian Misa Kudus di malam Natal yang penuh haru dengan linangan air mata perpisahan.
Menyaksikan hal itu, tentara Ternate bersikap ksatria. Orang-orang Portugis diizinkan membawa harta bendanya kecuali senjata dan alat perang. Musuh-musuh Islam terus dicekam ketakutan akan dibunuh laskar jihad Kesultanan Ternate, ternyata diperlakukan seperti layaknya saudara. Begitu senjatanya dilucuti, mereka dintar ke kapal untuk meninggalkan perairan Maluku. Mereka dibawa bergabung dengan Spanyol ke Manila dan sebagian ke Timor Timur.
Khalifah Imperium Islam di Nusantara SB memang amat menjunjung tinggi nilai ajaran Islam. Banyak pembesar kraton yaang akhirnya merasa kecewa dengan tindakan SB. Sebab musuh Islam yang membunuh ayah SB malah diperlakukan dengan baik. Ketika banyak yang mempertanyakan hal itu, SB memberi titah, “Wahai joumbala (rakyat), ketahuilah bahwa ajaran Islam tidak memperbolehkan seorang Muslim mengambil keuntungan karena kelemahan musuhnya dalam perang di medan laga.”
Kesaksian ucapan SB itu membuat para tawanan Portugis yang beragama Katolik semakin terharu atas sikap toleransi beragama yang dipraktikkan SB. Ini mencerminkan sikap seorang pemimpin yang ksatria. Seperti halnya Khalifah Shalahuddin Al-Ayyubi pada masa Perang Salib (1187-1193), SB membebaskan tawanan yang tidak sanggup membayar tebusan, juga tawanan yang mendapat ratapan istrinya.
Kekuatan bangsa Portugis telah dilumpuhkan tanpa kecuali. Pekik kemenangan diserukan pasukan Muslim Ternate, bergema di mana-mana, menyeru keagungan asma Allah: Allahu Akbar...Allahu Akbar!
Dan syair inilah yang selalu dikumandangkan laskar jihad Ternate dalam rangka mengajak persatuan untuk mengusir penjajah Portugis:
Moro-moro se maku gise
No kakoro siwange ma buluke
Si wange ma sosiru
Jo Mapolo sara sekore mie
Ini formoni Bismillah!
(Jika panggilan jihad telah diumumkan wajiblah diteruskan pada rakyat, Di matahari naik dan rakyat di matahari masuk, Bersatulah dengan rakyat di angin selatan, Dan rakyat di angin utara, bangkitlah berperang. Dengan niat Bismillah!)
Khalifah Imperium Islam Nusantara
Kemenangan SB dalam memimpin perang `menjebol' Portugis dari Nusantara banyak dianggap sebagai tonggak kemenangan Islam di Nusantara. Kesultanan Ternate mengalami masa gemilang, bebas dari pengaruh Portugis dan Spanyol. Aktivitas dakwah pun begitu gencar dilaksanakan ke seluruh penjuru negeri. Kepulauan Nusa Tenggara menjadi lahan dakwah paling ramai tenaga-tenaga da'i utusan SB.
Dengan kharisma sebagai pemimpin, SB telah menunjukkan keperkasaannya sebagai koordinator andal dari pelbagai suku yang berbeda akar genealogis. Karena itulah ia diakui dan dikukuhkan sebagai “khalifah Imperium Islam” oleh Majelis Sidang Raja-Raja yang bersekutu dengan Ternate di Makassar, pusat kerajaan Gowa.
Sebagai Khalifah Islam Nusantara penguasa 72 negeri, SB menempatkan 6 sangaji di Nusa Tenggara, yaitu: Sangaji Solor, Sangaji Lawayong (NTT), Sangaji Lamahara, Sangaji Kore (NTB dan Bali), Sangaji Mena, dan Sangaji Dili (Timtim). Di pulau Jawa ada 4: Sangaji Lor, Sangaji Kidul, Sangaji Wetan, dan Sangaji Kulon. Di Sumatera ada Sangaji Palembang. Sementara di Irian ada 5, yaitu: Sangaji Raja Ampat (Kolano Fat), Sangaji Papua Gamsio (Sorong), Sangaji Mafor (Biak), Sangaji Soaraha (Jayapura), dan Sangaji Mariekku (Merauke). Di Sulawesi ditempatkan di kerajaan Goa Makassar, Bone, Buton Raha, Gorontalo, Sangir, Minahasa, Luwu, Banggai, dan Selayar. Di Kalimantan ada kerajaan Sabah, Brunai, Serawak, dan Kutai. Begitu pula di Filipina, terdapat di kerajaan Mangindano, Zulu-Zamboango. Sementara di kepulauan Maluku sendiri ada Sangaji Seram, Ambon, Sula, Maba, Pattani, Gebe, dan lain-lain. Bahkan sampai di Mikronesia dekat pulau Marshall kepulauan Mariana, ada Sangaji Gamrangi. Begitu pula di Polinesia dan Melanesia. Begitu luas wilayah kekuasaannya, sehingga banyak yang menyebut bahwa Ternate masa SB bisa dijadikan model negara Islam di Nusantara.
Kerajaan Islam besar itu terus bertahan sampai anak keturunan SB. Anaknya, Sayeed Barakadli (Sayiyudin), pengganti SB, mampu mempertahankan eksistensi Ternate sebagai bangsa yang besar. Cucunya, Sultan Zainal Abidin, mewakili kemaharajaan Ternate dalam pembentukan Aliansi Aceh-Demak-Ternate (Triple Alliance).

Khalifah Imperium Islam Nusantara SB, mangkat pada tanggal 18 Ramadhan 991 H atau 25 Mei 1583 dalam usia 53 tahun. Duka dodora (kesedihan mendalam) melanda bumi Ternate, barangkali sama halnya dengan situasi saat ini tatkala kawasan itu terus berkecamuk.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar